Cari Blog Ini

Rabu, 16 Januari 2013

Sejatinya Cinta

Sejatinya cinta itu mampu menerjang
lembah dan bukit
bukan mampu menjamah dada berbukit..!
Sejatinya cinta itu saling menerima keluh
kesah bukan saling
meluk sampe basah..!
Sejatinya cinta itu saling memaafkan yg
salah bukan saling
raba atas bawah..!
Sejatinya cinta itu saling mengenal sesama
bukan saling buka
celana..!
Sejatinya cinta itu datang dari lubuk hati
terdalam bukan dari
isi celana dalam..!
jgn berlebihan menyayangi
pacarmu&Berhubu ngan Seperti
Gak selayaknya..!! apalagi lebay udah
saling panggil papa mama..!!
Mungkin ajha besok dia udah jadi mantan
kamu..!!
Jgn malu jadi jomblo karna jomblo itu
dosanya lebih kecil
dari orang pacaran..!!.


KISAH HARI IBU


Aku terduduk lemas diruang tunggu
Rumah Sakit, saat mendengar kabar
kalau Ibuku dimasukkan ke ruang UGD.
Berjuta perasaan buruk seolah merasuki
hati dan fikiranku ketika seorang suster
menutup pintu ruangan tersebut.
Didalam penantianku, hanya
permohonan dan doa yang bisa
kupanjatkan kepada Allah SWT untuk
kesembuhan dirinya.
“Ya Allah sembuhkanlah dia, angkatlah
semua penyakitnya Ya Allah…” Begitulah
kiranya doa yang kupanjatkan untukNya.
15 menit telah berlalu, dan kejauhan
tampak seorang Dokter yang berjalan
menghampiriku.
“Apa anda keluarganya?” Kata Dokter
tersebut.
“Ya benar, saya anaknya. Bagaimana
keadaan ibu saya, Dok?” Ujarku penuh
Tanya.
“Alhamdulillah, kami tim medis berhasil
menyelamatkan nyawa Ibu anda. Saat ini
kondisinya telah berangsur-angsur
membaik dan hanya perlu banyak
istirahat.” Katanya memberi penjelasan.
“Terima kasih Dokter. Lalu, apa saya
sudah boleh menjenguknya?” Kataku lagi.
“Oh tentu, silakan.” Jawabnya.
Seketika kutepis jauh-jauh semua fikiran
buruk tentang kondisi ibu. Air mata
kesedihan kini tampak mengering,
berganti dengan air mata kebahagiaan.
“Terima kasih Ya Allah, engkau masih
memberikanku kesempatan
untuk berada disampingnya.” Aku
berucap lirih.
Setibaku diruang 601, tempat dimana
Ibuku dirawat, aku langsung duduk
ditepi kasur, tempat ibu berbaring. Aku
membelai rambutnya dengan penuh
kasih dan sayang, dan berharap
kesembuhan untuknya. Tak lupa kutatap
wajahnya, wajah yang nampak tenang
dan berseri seri, seolah menghapus
semua penderitaan dan kesedihannya
selama mi, terutama setelah kepergian
Ayahku menghadap Sang Pencipta. Aku
terpaku. Saat itu juga, dan tanpa
disengaja aku meneteskan air mata
kesedihan. Air mata yang mengingatkan
aku akan kesalahan-kesalahan yang telah
ku perbuat selama ini.
Sejenak aku terdiam. Dalam lamunanku
itu, aku kembali teringat saat-saat
dimana Ibuku masih sehat dan segar,
saat masih bisa menemaniku,
memanjakanku dan
mengajarkanku arti kehidupan.
Bagiku, ia sangat menyenangkan. Sosok
seorang ibu sekaligus
teman, yang mungkin tidak semua anak
dapat merasakannya,
Sungguh, betapa beruntungnya aku. Lalu
fikiranku kembali ke
empat tahun silam, ketika
umurku menginjak 17 tahun dan
menjadi seorang pelajar SMA
terkenal di Jakarta. Pada saat itu, aku
tumbuh menjadi seorang
remaja yang nakal. Berbagai kenakalan
seperti merokok,
berbohong, dan sering pulang hingga
larut malam, telah menjadi teman baik
untukku.
Hal ini tentu
membuat kedua Orangtuaku sangat
khawatir. Mereka terus
menasehatiku dengan penuh kesabaran
dan perhatian.
Kekerasan dan ego tak pernah
mereka gunakan dalam mendidikku,
tetapi agama-lah
yang menjadi pedoman untuk terus
membimbingku kepada kebaikan dan
kebenaran.
Tak lama, hatiku pun luluh. Aku benar-
benar tak tega melihat kedua Orangtuaku
bekerja keras, banting tulang siang dan
malam, serta rela melakukan apa saja
demi aku, anaknya. Sejak saat itu aku
bertekad untuk merubah dan membawa
diri menuju arah yang lebih baik.
Ditengah perubahan itu, tiba-tiba aku
ditimpa musibah yang sangat
membuatku merasa sedih, Ayahku
terserang penyakit jantung kronis dan
meninggal empat hari kemudian.
Menurut Dokter, Ayah meninggal akibat
terlalu banyak beban yang harus
ditanggungnya, yang berpengaruh buruk
kepada kesehatan jantungnya. Aku yang
mendengar hal itu langsung menangis
sejadi jadinya dan berteriak sekencang
kencangnya untuk mengncapkan “maaf’
walaupun ku tahu itu semua telah
terlambat.
Kepergian Ayahku untuk selama-lamanya
membuat beban
Ibuku bertambah dua kali lipat. Tubuhnya
yang semula indah, khas seorang wanita,
kini telab berubah menjadi seorang
wanita yang iebih kurus dan terlihat
kurang menarik lagi. Kulitnya yang kusam
dan peluh keringat yang bercucuran
didahinya menggambarkan betapa
beratnya pekerjaan dan beban yang
harus Ibu pikul. Selama itu pula tak
pernah kudengar keluh kesah atau
penyesalan selama aku berada
disampingnya. Benar benar wanita yang
mulia.
Lama aku terdiam, tiba-tiba lamunanku
harus berakhir ketika seorang Dokter
masuk keruangan kami untuk memeriksa
keadaan Ibuku.
“Bagaiman keadaan ibu saya, Dok?”
Tanyaku.
“Oh… Kamu tenang saja, kondisi ibumu
sudah stabil.” Jawabnya singkat.
“Kalau begitu. apa saya sudah bisa
meninggalkannya untuk sementara?
Karena saya harus kuliah.” Tanyaku lagi.
“Baiklah kaiau begitu, anda sudah bisa
meninggalkannya sekarang. Biar Suster
yang menjaga Ibu anda.” Jawabnya
seraya meyakinkanku.
Setelah Dokter meninggalkan ruangan,
aku mencium kening Ibu dengan lembut.
Seraya kuucapkan sebuah kalimat penuh
harapan ke telinganya.
“Cepat sembuh ya, Bu…” Ucapku lirih
sambil kulangkahkan kakiku keluar
ruangan.
Keesokkan harinya, sesaat sebelum aku
berangkat ke Rumah Sakit, tak sengaja
aku melihat kalender disudut dinding
kamarku. Ternyata hari ini tanggal 21
Desember.
Astaghfirullah, aku hampir lupa, besok
kan Hari Ibu? Lain sesegera mungkin aku
pergi ke toko kue untuk membelikan ibu
sebuah kue tart kesukaannya, dan empat
buah lilin untuk mengucapkan
pengharapan.
Setelah selesai membeli kue, aku
melanjutkan perjalanan ke Rumah Sakit.
Selama perjalanan, aku tersenyum,
membayangkan bagaimana perasaan ibu
ketika kuhadiahi kue di Han penuh kasih
sayang untuk seorang ibu. Tak lupa
kuseilipkan sepotong doa agar Allah SWT
senantiasa menjaga dirinya.
Karena terjebak kemacetan lain lintas,
akhirnya aku samapi di Rumah Sakit PKL
22.30 WIB. Lalu aku masuk ke kamar ibu.
Karena lelah akibat perjalanan, aku
tertidur dengan kepala bersandar ditepi
ranjang dan tangan kanan
menggenggam tangan Ibu. Satu jam
kemudian aku terbangun dan sedikit
terkejut ketika jam didinding telah
menunjukkan PKL 22.30. itu artinya
setengah jam lagi tanggal dikalender
akan bergeser ke tanggal 22, Hari
istimewa untuk para ibu didunia. Segera
kukeluarkan kue tart yang telah kubeli
tadi siang beserta empat lilin
pengharapan. Menit terus berganti dan
tak terasa 10 menit lagi waktu akan
menuju PKL 00
Aku mulai menancapkan satu persatu lilin
pengharapan keatas kue tart itu. Saat
akan membakar sumbu lilin, aku
menggenggam erat tangan ibu.
Tangannya terasa hangat, sehangat
perhatiannya kepadaku selama ini. Dan
dengan segera ku bakar lilin-lilin itu.
“ibu, lihatlah empat lilin ini. Aku berharap
kesembuhan untuk penyakitmu dililin
yang pertama in Pada lilin yang kedua,
aku ingin ibu tahu, kalau aku selalu
sayang sama ibu. Lalu dililin yang ketiga,
aku ingin suatu saat nanti, ibu melihatku
telah menjadi seorang yang yang berhasil
dan sukses. Dan dililin terakhir, aku ingin
membahagiakanmu dengan segala
kemampuanku…’ Ucapku sedikit terharu.
Aku tak mampu menahan kesedihanku.
ibu menangis. Tangisan yang seolah-olah
membuat seisi ruangan tampak ikut
bersedih. PKL 00.05, suasana sangat
hening. Aku hanya bisa menatap dengan
tatapan kosong saat wajah ibu berubah
menjadi sedikit pucat. Entah apa yang
sedang kupikirkan, tiba-tiba aku tak
sengaja menyanyikannya sebuah iagu.
“Kasih Ibu, Kepada beta, tak terhingga
sepanjang masa…
Hanya memberi, tak harap kembali…
Bagai sang surya, menyinari dunia…”
Hanya ini yang mampu kupersembahakn
untuk ibu. Kemudian aku kembaii
menyanyikan lagu ini untuk kedua
kalinya. Dengan sangat tenang
kuletakkan tangan kananku pada
tangannya dan tangan kiriku dikening
dan rambutnya. aku tak mampu untuk
melanjutkan nyanyianku itu hingga akhir,
hanya air mata yang sanggup
menggantikanku.
Tepat PKL 00.15 ibuku menggenggam
tanganku kuat-kuat, dan menanik nafas
dalam-dalam sebanyak tiga kali. aku baru
sadar kalau itu adalah suatu pertanda ia
akan meninggalkanku untuk selama
lamanya. Tiba-tiba garis-garis dilayar
berubah menjadi lurus. Tak mampu
kuelakkan lagi, air mataku meluncur
deras dan tak mampu kubendung lagi.
Tangisku pecah saat kupandang wajah
ibuku yang sudah tenang
meninggalkanku menghadap
penciptaNya.
“ibu… Jangan tinggalkan aku….” Ujarku
lemas.
“Selamat Ha.. .ri… ibu… , maafkan aku
yang tak sempat membahagiakanmu….”
Kataku penuh penyesalan.
ibu meninggalkanku pada tanggai 22
Desember, tepat dimana seorang anak
yang dilahirkan dari rahimnya
membenihkan sebuah perhatian dan
kasih sayang serta belajar untuk
memaknai anti penting kehadiran
seonang ibu dihidupnya. Dan ibu juga
meninggalkan empat lilin pengharapan
yang belum sempat ditiupnya……
Wassalam:

RENUNGAN ANAK JAMAN SEKARANG

RENUNGAN ANAK JAMAN SEKARANG
- PACAR sakit Khawatir, IBU yang sakit cuek…
- PACAR ulang tahun di kasi kado, IBU ulang
tahun BOMAT.
- PACAR belum makan ditanya, IBU belum
makan tp biasa saja.
- PACAR marah jadi sedih, IBU yang marah tp
balas marah
- Butuh PACAR setiap waktu, butuh IBU ada
maunya.
- Lagi senang sama PACAR, lagi susah sama
IBU
- PACAR nangis ditenangin, IBU nangis cuek
aja.
Bagaimana kalo keadaan sbb :
- Gak punya uang jalan sama PACAR, minta
uang sama IBU
- Gak ngerti tugas sekolah, nanya ke IBU.
- Lagi sakit manggil IBU
- Diamarahin AYAH ngadu ke IBU
- Minta sesuatu ngomongnya ke IBU….
- Jika tiada, baru menangis.
-
Ingat waktu KECIL sbb :
- Siapa yang memanjakan, jawabannya IBU
- Siapa yang ada ketika sakit, jawabannya IBU
- Siapa yang setia merawat? Jawabannya IBU
- Siapa yang paling khawatir pada saat susah?
Jawabannya IBU
- Siapa yang paling sabar ktk kesal?
Jawabannya IBU
- Siapa yang menerima apa adanya?
Jawabannya IBU

RAHASIA DIBALIK WUDHU


1.. Ketika berkumur, berniatlah kamu
dengan, "Ya Allah, ampunilah dosa mulut
dan lidahku ini".
2.. Ketika membasuh muka, berniatlah
kamu dengan, "Ya Allah, putihkanlah muka
ku di akhirat kelak. Janganlah Kau
hitamkan muka ku ini".
3.. Ketika membasuh tangan kanan,
berniatlah kamu dengan, "Ya Allah,
berikanlah hisab-hisab ku di tangan kanan
ku ini".
4.. Ketika membasuh tangan kiri, berniatlah
kamu dengan, "Ya Allah, janganlah Kau
berikan hisab-hisab ku di tangan kiri ku ini".
5.. Ketika membasuh kepala, berniatlah
kamu dengan, "Ya Allah, lindunganlah daku
dari terik matahari di padang Mahsyar
dengan Arasy Mu".
6.. Ketika membasuh telinga, berniatlah
kamu dengan, "Ya Allah, ampunilah dosa
telinga ku ini".
7.. Ketika membasuh kaki kanan, berniatlah
kamu dengan, "Ya Allah, permudahkanlah
aku melintasi titian Siratul Mustaqqim".
8.. Ketika membasuh kaki kiri, berniatlah
kamu dengan, "Ya Allah, bawakanlah daku
pergi ke masjid-masjid, surau-surau dan
bukan tempat-tempat maksiat".

TA'ARUF ATAU ZINA HATI....?

Banyaknya jaringan sosial di dunia maya seperti facebook, yahoo

messenger, dll, menjadikan akhwat dan ikhwan mudah berinteraksi tanpa batas. Begitu lembut dan halusnya jebakan dunia maya, tanpa disadari mudah menggelincirkan diri manusia ke jurang kebinasaan. Kasus ta'aruf ini sangat memprihatinkan sebenarnya. Seorang bergelar ikhwan memajang profil islami, tapi serampangan memaknai ta'aruf. Melihat akhwat yang dinilai bagus kualitas agamanya, langsung berani mengungkapkan kata 'ta'aruf', tanpa perantara. Jangan memaknai kata "ta'aruf" secara sempit, pelajari dulu serangkaian tata cara ta'aruf atau kaidah-kaidah yang dibenarkan oleh Islam. Jika memakai kata ta'aruf untuk bebas berinteraksi dengan lawan jenis, lantas apa bedanya yang telah mendapat hidayah dengan yang masih jahiliyah? Islam telah memberi konsep yang jelas dalam tatacara ta'aruf. Suatu ketika ada sebuah cerita di salah satu situs jejaring sosial, pasangan akhwat-ikhwan mengatakan sedang ta'aruf, dan untuk menjaga perasaan masing-masing, digantilah status mereka berdua sebagai pasutri, sungguh memiriskan hati.

Pernah juga ada kisah ikhwan-akhwat yang saling mengumbar kegenitan di dunia maya, berikut ini petikan obrolannya: "Assalamualaikum ukhti," Sapa sang ikhwan. "'Wa'alikumsalam akhi," Balas sang akhwat. "Subhanallah ukhti, ana kagum dengan kepribadian anti, seperti Sumayyah, seperti Khaulah binti azwar, bla bla bla bla…" puji ikhwan tersebut. Apakah berakhir sampai di sini? Oh no…. Rupanya yang ditemui ini juga akhwat genit, maka berlanjutlah obrolan tersebut, si ikhwan bertanya apakah si akhwat sudah punya calon, lantas si akhwat menjawab. "Alangkah beruntungnya akhwat yang mendapatkan akhi kelak." Sang ikhwan pun tidak mau kalah, balas memuji akhwat. "Subhanallah, sangat beruntung ikhwan yang mendapatkan bidadari dunia seperti anti."

....Banyaknya jaringan sosial di dunia maya menjadikan akhwat dan ikhwan mudah berinteraksi tanpa batas. Ikhwannya membabi buta, akhwatnya terpedaya.... Owh mengerikan, berlebay-lebay di dunia maya, syaitan tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Lalu tertancaplah rasa, bermekaran di dada dua sejoli tersebut, yang belum ada ikatan pernikahan. Dengan bangganya sang ikhwan menaburkan janji-janji manis, akan mengajak akhwat hidup di planet mars, mengunjungi benua-benua di dunia. Hingga larutlah keduanya dalam janji-janji lebay. Ikhwannya membabi buta, akhwatnya terpedaya……a'udzubillah, bukan begitu ta'aruf yang Rasulullah ajarkan.

Wahai Ikhwan, Jangan Permainkan Ta'aruf! Muslimah itu mutiara, tidak sembarang orang boleh menyentuhnya, tidak sembarang orang boleh memandangnya. Jika kalian punya keinginan untuk menikahinya, carilah cara yang baik yang dibenarkan Islam. Cari tahu informasi tentang akhwat melalui pihak ketiga yang bisa dipercaya. Jika maksud ta'arufmu untuk menggenapkan separuh agamamu, silakan saja, tapi prosesnya jangan keluar dari koridor Islam.
Wahai ikhwan, relakah jika adikmu dijadikan ajang coba-coba ta'aruf oleh orang lain? Tentu engkau keberatan bukan?
Wahai ikhwan, relakah jika adikmu dijadikan ajang coba-coba ta'aruf oleh orang lain? Tentu engkau keberatan bukan? Jagalah izzah muslimah, mereka adalah saudaramu. Pasanglah tabir pembatas dalam interaksi dengannya. Pahamilah, hati wanita itu lembut dan mudah tersentuh, akan timbul guncangan batin jika jeratan yang kalian tabur tersebut hanya sekedar main-main. Jagalah hati mereka, jangan banyak memberi harapan atau menabur simpati yang dapat melunturkan keimanan mereka. Mereka adalah wanita-wanita pemalu yang ingin meneladani wanita mulia di awal-awal Islam, biarkan iman mereka bertambah dalam balutan rasa nyaman dan aman dari gangguan JIL alias Jaringan Ikhwan Lebay.

Wahai Ikhwan, Ini hanya sekedar nasihat, jangan mudah percaya dengan apa yang dipresentasikan orang di dunia maya, karena foto dan kata-kata yang tidak kamu ketahui kejelasan karakter wanita, tidak dapat dijadikan tolak ukur kesalehahan mereka, hendaklah mengutus orang yang amanah yang membantumu mencari data dan informasinya. Luasnya ilmu yang engkau miliki tidak menjadikan engkau mulia, jika tidak kau imbangi dengan menjaga adab pergaulan dengan lawan jenis....

Wahai ikhwan, luasnya ilmu yang engkau miliki tidak menjadikan engkau mulia, jika tidak kau imbangi dengan menjaga adab pergaulan dengan lawan jenis. Duhai Akhwat, Jaga Hijabmu! Duhai akhwat, jaga hijabmu agar tidak runtuh kewibaanmu. Jangan bangga karena banyaknya ikhwan yang menginginkan taaruf. Karena ta'aruf yang tidak berdasarkan aturan syar'i, sesungguhnya sama saja si ikhwan meredahkanmu. Jika ikhwan itu punya niat yang benar dan serius, tentu akan memakai cara yang Rasulullah ajarkan, dan tidak langsung menembak kalian dengan caranya sendiri. Duhai akhwat, terkadang kita harus mengoreksi cara kita berinteraksi dengan mereka, apakah ada yang salah hingga membuat mereka tertarik dengan kita? Terlalu lunakkah sikap kita terhadapnya?
Duhai akhwat, sadarilah, orang-orang yang engkau kenal di dunia maya tidak semua memberikan informasi yang sebenarnya, waspadalah, karena engkau adalah sebaik-baik wanita yang menggenggam amanah Ilahi. Jangan mudah terpedaya oleh rayuan orang di dunia maya.
Ikhwah Fillah....berhiaslah dengan akhlak islami, jangan mengumbar kegenitan pada ikhwan yang bukan mahram.... Duhai akhwat, berhiaslah dengan akhlak islami, jangan mengumbar kegenitan pada ikhwan yang bukan mahram, biarkan apa yang ada di dirimu menjadi simpanan manis buat suamimu kelak. Duhai akhwat, ta'aruf yang sesungguhnya haruslah berdasarkan cara Islam, bukan dengan cara mengumbar rasa sebelum ada akad nikah.



Bidadari Dunia Mencari Bekal Untuk Akhirat

TUJUH KALIMAT PENGHAPUS DOSA


Barang siapa hafal tujuh kalimat, ia
terpandang mulia di sisi Allah dan Malaikat
serta diampuni dosa-dosanya walau
sebanyak buih laut.
1. Mengucap “Bismillah” pada tiap-tiap
hendak melakukan sesuatu.
2. Mengucap “Alhamdulillah” pada tiap-tiap
selesai melakukan sesuatu.
3. Mengucap “Astaghfirullah” jika lidah
terselip perkataan yang tidak patut.
4. Mengucap “Insya-Allah” jika
merencanakan berbuat sesuatu di hari
esok.
5. Mengucap “La haula wala kuwwata illa
billah” jika menghadapi sesuatu tak disukai
dan tak diinginkan.
6. Mengucap “Inna lillahi wa inna ilaihi
rojiun” jika menghadapi dan menerima
musibah.
7. Mengucap “Laa ilaa ha illa Allah
Muhammadur Rasulullah” sepanjang siang
dan malam, sehingga tak terpisah dari
lidahnya.

Mencintai Dengan Indah

Ketika cinta hadir bukan hanya untuk Allah Yang Maha Mengetahui, saat secercah rasa tidak hanya untuk Yang Maha Pencipta, izinkanlah hati bertanya untuk siapa ia muncul dengan tiba-tiba.... Mungkinkah dengan ridha-Nya atau hanya mengundang murka-Nya?

Rasa cinta itu ibarat pelangi, begitu banyak warna di sana...

Cinta terkadang membuat kita bahagia...

Namun tak jarang membuat kita menderita...

Cinta adakalanya manis bagai madu...

Namun juga mampu memberi rasa pahit bagai empedu...

Cinta adalah perangkap rasa...

Sekali kita salah berlaku, maka akan terkungkung dalam waktu yang lama, dalam lingkaran derita...

Duhai, bagaimanakah kiranya diri bisa keluar dari belenggu itu?

Cintailah dia dengan indah, sikapi dengan anggun dan bijaksana.

Cintailah dia dalam diam, dari kejauhan dengan kesederhanaan dan keikhlasan.

♥♥ Cintai dalam diam ♥♥

Bukan karena membenci hadirnya, tapi menjaga kesuciannya, bukan karena menghindari dunia, tapi meraih surgaNya, bukan karena lemah untuk menghadapinya, tapi menguatkan jiwa dari godaan syaitan yang begitu halus dan menyesatkan.

♥♥ Cintai dari kejauhan ♥♥

Karena kehadiran kita tiada mampu menjauhkan diri dari cobaan, kehadiran kita hanya akan menggoyahkan iman dan ketenangan, kehadiran kita mungkin saja akan membawa kesedihan bagi hati yang terjaga.

♥♥Cukup cintai ia dengan kesederhanaan♥♥

Memupuknya hanya akan menambah penderitaan, menumbuhkan harapan hanya akan mengundang kekecewaan, mengharapkan balasan hanya akan membumbui kebahagiaan para syaitan.

♥♥ Maka cintailah ia dengan keikhlasan ♥♥

Karena tentu kisah cinta Fatimah dan Ali bin Abi Thalib yang diinginkan oleh hati... Tapi sanggupkah jika semua berakhir seperti sejarah cinta Salman Al Farisi?
boleh jadi ( pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. ( QS. Al Baqarah : 216)

Tiada obat yang paling mujarab bagi dua orang berlainan jenis yang saling mencintai kecuali bersatunya dua hati,dua jiwa dan raga dalam ikatan suci pernikahan.

"Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas ( pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.( QS. An-Nur : 32).

Tapi.... Jika memang kelemahan masih nyata di pelupuk mata maka bersabarlah, berdo'alah dan berpuasalah....

"Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. ( QS. Al- Israa : 32)

Cinta bukan untuk kita hancurkan dan kita musnahkan, yang kita perlukan adalah mengendalikan dan mengarahkan agar tidak melanggar syariat-Nya. Kita butuh waktu, kesabaran, kepercayaan/keyakinan bahwa Allah lah yang mengatur segalanya. Dia akan memberikan pasangan hidup yang terbaik untuk kita pada waktu yang tepat dan orang yang tepat.

Sebelum semuanya halal marilah kita fokus mendekatkan diri pada-Nya dengan memperbanyak ibadah dan memperkuat rasa cinta kita pada-Nya.

Dan cintailah yang belum halal itu dalam diam, dari kejauhan dengan kesederhanaan dan keikhlasan, itu jauh lebih anggun, lebih indah, lebih bijak dan lebih suci.


Bidadari Dunia Mencari Bekal Untuk Akhirat