Cari Blog Ini

Sabtu, 22 Februari 2014

KERINDUAN Qu



Ibu adalah kata indah dan manis
yang datang dari lubuk hati
ibu adalah segalanya
penghibur saat aku sedih
harapan saat aku menderita, dan
kekuatan saat aku lemah

Saat ini aku merindukanmu ibu
rindu akan pelukan hangatmu
rindu akan belaian kasih sayangmu, dan
rindu akan belaian tanganmu yang lembut

Kau begitu indah dan sempurna di mataku
pengorbananmu begitu tulus, sehingga
ku tersadar bahwa aku tak mampu membatasinya
ibu apakah di sana kau mendengar jeritan hati ini ?
jeritan hati yang selalu merindukan senyuman indah darimu

Ya Tuhan jagalah selalu ibuku
berada dalam sisimu
karena hanya seuntai do'a
yang dapat ku persembahkan untuknya

Selasa, 31 Desember 2013

SAAT SEJENAK MENOREH KE BELAKANG

Setahun sudah kita lewati,
Hari-hari suka bergelimang tawa,
Tak terasa kadang lupa Sang Pencipta,
Hingga melalaikan perintah-Nya.
Namun sedetik saja kita menangis,
Beribu do’a dipanjatkan pada-Nya,
Seakan-akan kita golongan hamba-Nya,
Yang pasti dirahmati kuasa-Nya.
Tidakkah kita mau tundukkan kepala,
Sejenak mensyukuri aneka berkah-Nya,
Yang perdetik kita hirup,
Sehingga kita bertahan hidup.
Haruskah kita hanya meminta?
Pabila takwa di bibir saja.
Perlukah kita menuntut ridho-Nya?
Kalau iman tak bersemayam di dada.
RENUNGKANLAH!!!
 
 Ruang itu.....
senang sedih tawa tangis dan perjuangan ada disana..
rasa yang tak terukir yang tidak dapat di ungkapkan
hanya dalam rangkaian huruf yang membentuk suatu kata
yang terangkai kemudian membentuk sebuah kalimat..

Rasa itu....
hanya satu kata yang tepat menggambarkannya yaitu keluarga..
menggambarkan sebuah persatuan tanpa dinding..

Keluarga itu...
yang membuat saya masih terus dapat berdiri tegar hingga detik ini..
membuat saya masih dapat menghirup nafas, walau sesak yang terasa..
yang membuat saya sampai di titik ini dan masih terus melangkah ke depan,
walau kerikil semakin membesarkan ukurannya..
yang memberikan semangat selalu untuk duduk di sini..

Mereka itu.....
yang membuat saya mampu menjadi saya..
yang membuat saya berani..
yang membuat saya kembali bersemangat ketika kelelahan merasuk di diri..
yang membuat saya kembali tersenyum ketika kesedihan melanda hidup..
yang memarahi saya ketika saya mulai mengeluh, namun tidak pernah lelah mendengarkan keluhan saya..
yang selalu mengingatkan saya di setiap langkah yang harus saya tempuh agar saya tidak tersesat..
yang mengajari saya menghadapi kejamnya dunia agar saya mampu bertahan hidup..
yang membuat saya merasa sangat tidak mampu mengecewakannya..

Dan.....
hanya karna ketulusan mereka ada..
hanya karna Yang Kuasa mereka ada..
hanya karna ruang, rasa, serta keluarga mereka ada..
hanya ini yang mampu saya tuliskan..
hanya karna mereka lah saya masih tetap bertahan..

Terimakasih...
satu kata yang mungkin tak mampu memberi arti..
satu ungkapan yang mungkin tak dapat mewakili..
telah memberikan semua kepada saya..
telah menjadikan semua seperti ini, tak ternilai dan tak terganti seluruh jasa..
telah menjadi keluarga bagi saya..

Sayang.....
enam huruf sejuta arti..
satu kata penuh makna..
persembahan dari hati..
untukmu keluarga……
 
 

SUATU HARAPAN

Langkah demi langkah telah ku jejaki
Membawa ku berada di batas waktu,
Kenangan demi kenangan terlewati
Membawa ku di penghujung kisah

Sebuah perjalanan panjang
Dalam suatu kehidupan…….

Entah….apakah aku sanggup melewati
Rintangan berikut nya
Atau harus berhenti melangkah
Di ujung mimpi…..

Suatu harapan yang terbentang jauh disana
Menembus angan di malam ini…
 
 

MIMPI YANG HILANG

Terbuai dalam irama musik yang menggema
Menyebar ke dalam sukma
Mengingatkan kembali akan sebuah masa
Masa yang dulu penuh asa
Walau kisah silam penuh dengan Ankara
Semuanya terasa indah dalam jiwa
Menjadi sebuah cahaya
Namun semuanya sirna
Tak ada harapan yang tersisa
tak ada nada yang tercipta
lukisan rindu tak lagi ada
semuanya menjadi hampa...

Minggu, 12 Mei 2013

Islamic motivation

Jangan malu dan merasa rendah diri jika saat ini kau masih JOMBLO....
Dan jangan juga berputus asa jika ada yang berkata dirimu tak laku.... (yeee,,,, emang barang,,, kali ya,, pake laku segala...?)

Tetaplah optimis,,,
Dan bersyukurlah...
Karena sebenarnya ALLAH telah menjagamu dari CINTA yang belum saatnya kau nikmati...

Usah GALAU,,,,
Jika ada yang bertanya,,
''sudah menikah? Atau kapan menikah?''

Jawablah dengan simple... ''Jika sudah saat-NYA bagimu untuk menikah, maka kau pasti akan menikah juga dengan orang yang tepat''.

Dan soal JODOH,..?
Usah lah risau.. Karena JODOH ibarat kematian bagimu... Yang semuanya telah di tulis-Nya di lembar LAUHULMAHFUDZ''
Jadi,,, pasti akan datang juga... Di dunia atau di akhirat-Nya, kelak.

Yang terpenting kau lakukan saat ini adalah...
''menyiapkan diri utk menjemput apa yang telah di tuliskan-Nya utkmu... Dan pasti itu selalu INDAH ''

Rabu, 16 Januari 2013

Sejatinya Cinta

Sejatinya cinta itu mampu menerjang
lembah dan bukit
bukan mampu menjamah dada berbukit..!
Sejatinya cinta itu saling menerima keluh
kesah bukan saling
meluk sampe basah..!
Sejatinya cinta itu saling memaafkan yg
salah bukan saling
raba atas bawah..!
Sejatinya cinta itu saling mengenal sesama
bukan saling buka
celana..!
Sejatinya cinta itu datang dari lubuk hati
terdalam bukan dari
isi celana dalam..!
jgn berlebihan menyayangi
pacarmu&Berhubu ngan Seperti
Gak selayaknya..!! apalagi lebay udah
saling panggil papa mama..!!
Mungkin ajha besok dia udah jadi mantan
kamu..!!
Jgn malu jadi jomblo karna jomblo itu
dosanya lebih kecil
dari orang pacaran..!!.


KISAH HARI IBU


Aku terduduk lemas diruang tunggu
Rumah Sakit, saat mendengar kabar
kalau Ibuku dimasukkan ke ruang UGD.
Berjuta perasaan buruk seolah merasuki
hati dan fikiranku ketika seorang suster
menutup pintu ruangan tersebut.
Didalam penantianku, hanya
permohonan dan doa yang bisa
kupanjatkan kepada Allah SWT untuk
kesembuhan dirinya.
“Ya Allah sembuhkanlah dia, angkatlah
semua penyakitnya Ya Allah…” Begitulah
kiranya doa yang kupanjatkan untukNya.
15 menit telah berlalu, dan kejauhan
tampak seorang Dokter yang berjalan
menghampiriku.
“Apa anda keluarganya?” Kata Dokter
tersebut.
“Ya benar, saya anaknya. Bagaimana
keadaan ibu saya, Dok?” Ujarku penuh
Tanya.
“Alhamdulillah, kami tim medis berhasil
menyelamatkan nyawa Ibu anda. Saat ini
kondisinya telah berangsur-angsur
membaik dan hanya perlu banyak
istirahat.” Katanya memberi penjelasan.
“Terima kasih Dokter. Lalu, apa saya
sudah boleh menjenguknya?” Kataku lagi.
“Oh tentu, silakan.” Jawabnya.
Seketika kutepis jauh-jauh semua fikiran
buruk tentang kondisi ibu. Air mata
kesedihan kini tampak mengering,
berganti dengan air mata kebahagiaan.
“Terima kasih Ya Allah, engkau masih
memberikanku kesempatan
untuk berada disampingnya.” Aku
berucap lirih.
Setibaku diruang 601, tempat dimana
Ibuku dirawat, aku langsung duduk
ditepi kasur, tempat ibu berbaring. Aku
membelai rambutnya dengan penuh
kasih dan sayang, dan berharap
kesembuhan untuknya. Tak lupa kutatap
wajahnya, wajah yang nampak tenang
dan berseri seri, seolah menghapus
semua penderitaan dan kesedihannya
selama mi, terutama setelah kepergian
Ayahku menghadap Sang Pencipta. Aku
terpaku. Saat itu juga, dan tanpa
disengaja aku meneteskan air mata
kesedihan. Air mata yang mengingatkan
aku akan kesalahan-kesalahan yang telah
ku perbuat selama ini.
Sejenak aku terdiam. Dalam lamunanku
itu, aku kembali teringat saat-saat
dimana Ibuku masih sehat dan segar,
saat masih bisa menemaniku,
memanjakanku dan
mengajarkanku arti kehidupan.
Bagiku, ia sangat menyenangkan. Sosok
seorang ibu sekaligus
teman, yang mungkin tidak semua anak
dapat merasakannya,
Sungguh, betapa beruntungnya aku. Lalu
fikiranku kembali ke
empat tahun silam, ketika
umurku menginjak 17 tahun dan
menjadi seorang pelajar SMA
terkenal di Jakarta. Pada saat itu, aku
tumbuh menjadi seorang
remaja yang nakal. Berbagai kenakalan
seperti merokok,
berbohong, dan sering pulang hingga
larut malam, telah menjadi teman baik
untukku.
Hal ini tentu
membuat kedua Orangtuaku sangat
khawatir. Mereka terus
menasehatiku dengan penuh kesabaran
dan perhatian.
Kekerasan dan ego tak pernah
mereka gunakan dalam mendidikku,
tetapi agama-lah
yang menjadi pedoman untuk terus
membimbingku kepada kebaikan dan
kebenaran.
Tak lama, hatiku pun luluh. Aku benar-
benar tak tega melihat kedua Orangtuaku
bekerja keras, banting tulang siang dan
malam, serta rela melakukan apa saja
demi aku, anaknya. Sejak saat itu aku
bertekad untuk merubah dan membawa
diri menuju arah yang lebih baik.
Ditengah perubahan itu, tiba-tiba aku
ditimpa musibah yang sangat
membuatku merasa sedih, Ayahku
terserang penyakit jantung kronis dan
meninggal empat hari kemudian.
Menurut Dokter, Ayah meninggal akibat
terlalu banyak beban yang harus
ditanggungnya, yang berpengaruh buruk
kepada kesehatan jantungnya. Aku yang
mendengar hal itu langsung menangis
sejadi jadinya dan berteriak sekencang
kencangnya untuk mengncapkan “maaf’
walaupun ku tahu itu semua telah
terlambat.
Kepergian Ayahku untuk selama-lamanya
membuat beban
Ibuku bertambah dua kali lipat. Tubuhnya
yang semula indah, khas seorang wanita,
kini telab berubah menjadi seorang
wanita yang iebih kurus dan terlihat
kurang menarik lagi. Kulitnya yang kusam
dan peluh keringat yang bercucuran
didahinya menggambarkan betapa
beratnya pekerjaan dan beban yang
harus Ibu pikul. Selama itu pula tak
pernah kudengar keluh kesah atau
penyesalan selama aku berada
disampingnya. Benar benar wanita yang
mulia.
Lama aku terdiam, tiba-tiba lamunanku
harus berakhir ketika seorang Dokter
masuk keruangan kami untuk memeriksa
keadaan Ibuku.
“Bagaiman keadaan ibu saya, Dok?”
Tanyaku.
“Oh… Kamu tenang saja, kondisi ibumu
sudah stabil.” Jawabnya singkat.
“Kalau begitu. apa saya sudah bisa
meninggalkannya untuk sementara?
Karena saya harus kuliah.” Tanyaku lagi.
“Baiklah kaiau begitu, anda sudah bisa
meninggalkannya sekarang. Biar Suster
yang menjaga Ibu anda.” Jawabnya
seraya meyakinkanku.
Setelah Dokter meninggalkan ruangan,
aku mencium kening Ibu dengan lembut.
Seraya kuucapkan sebuah kalimat penuh
harapan ke telinganya.
“Cepat sembuh ya, Bu…” Ucapku lirih
sambil kulangkahkan kakiku keluar
ruangan.
Keesokkan harinya, sesaat sebelum aku
berangkat ke Rumah Sakit, tak sengaja
aku melihat kalender disudut dinding
kamarku. Ternyata hari ini tanggal 21
Desember.
Astaghfirullah, aku hampir lupa, besok
kan Hari Ibu? Lain sesegera mungkin aku
pergi ke toko kue untuk membelikan ibu
sebuah kue tart kesukaannya, dan empat
buah lilin untuk mengucapkan
pengharapan.
Setelah selesai membeli kue, aku
melanjutkan perjalanan ke Rumah Sakit.
Selama perjalanan, aku tersenyum,
membayangkan bagaimana perasaan ibu
ketika kuhadiahi kue di Han penuh kasih
sayang untuk seorang ibu. Tak lupa
kuseilipkan sepotong doa agar Allah SWT
senantiasa menjaga dirinya.
Karena terjebak kemacetan lain lintas,
akhirnya aku samapi di Rumah Sakit PKL
22.30 WIB. Lalu aku masuk ke kamar ibu.
Karena lelah akibat perjalanan, aku
tertidur dengan kepala bersandar ditepi
ranjang dan tangan kanan
menggenggam tangan Ibu. Satu jam
kemudian aku terbangun dan sedikit
terkejut ketika jam didinding telah
menunjukkan PKL 22.30. itu artinya
setengah jam lagi tanggal dikalender
akan bergeser ke tanggal 22, Hari
istimewa untuk para ibu didunia. Segera
kukeluarkan kue tart yang telah kubeli
tadi siang beserta empat lilin
pengharapan. Menit terus berganti dan
tak terasa 10 menit lagi waktu akan
menuju PKL 00
Aku mulai menancapkan satu persatu lilin
pengharapan keatas kue tart itu. Saat
akan membakar sumbu lilin, aku
menggenggam erat tangan ibu.
Tangannya terasa hangat, sehangat
perhatiannya kepadaku selama ini. Dan
dengan segera ku bakar lilin-lilin itu.
“ibu, lihatlah empat lilin ini. Aku berharap
kesembuhan untuk penyakitmu dililin
yang pertama in Pada lilin yang kedua,
aku ingin ibu tahu, kalau aku selalu
sayang sama ibu. Lalu dililin yang ketiga,
aku ingin suatu saat nanti, ibu melihatku
telah menjadi seorang yang yang berhasil
dan sukses. Dan dililin terakhir, aku ingin
membahagiakanmu dengan segala
kemampuanku…’ Ucapku sedikit terharu.
Aku tak mampu menahan kesedihanku.
ibu menangis. Tangisan yang seolah-olah
membuat seisi ruangan tampak ikut
bersedih. PKL 00.05, suasana sangat
hening. Aku hanya bisa menatap dengan
tatapan kosong saat wajah ibu berubah
menjadi sedikit pucat. Entah apa yang
sedang kupikirkan, tiba-tiba aku tak
sengaja menyanyikannya sebuah iagu.
“Kasih Ibu, Kepada beta, tak terhingga
sepanjang masa…
Hanya memberi, tak harap kembali…
Bagai sang surya, menyinari dunia…”
Hanya ini yang mampu kupersembahakn
untuk ibu. Kemudian aku kembaii
menyanyikan lagu ini untuk kedua
kalinya. Dengan sangat tenang
kuletakkan tangan kananku pada
tangannya dan tangan kiriku dikening
dan rambutnya. aku tak mampu untuk
melanjutkan nyanyianku itu hingga akhir,
hanya air mata yang sanggup
menggantikanku.
Tepat PKL 00.15 ibuku menggenggam
tanganku kuat-kuat, dan menanik nafas
dalam-dalam sebanyak tiga kali. aku baru
sadar kalau itu adalah suatu pertanda ia
akan meninggalkanku untuk selama
lamanya. Tiba-tiba garis-garis dilayar
berubah menjadi lurus. Tak mampu
kuelakkan lagi, air mataku meluncur
deras dan tak mampu kubendung lagi.
Tangisku pecah saat kupandang wajah
ibuku yang sudah tenang
meninggalkanku menghadap
penciptaNya.
“ibu… Jangan tinggalkan aku….” Ujarku
lemas.
“Selamat Ha.. .ri… ibu… , maafkan aku
yang tak sempat membahagiakanmu….”
Kataku penuh penyesalan.
ibu meninggalkanku pada tanggai 22
Desember, tepat dimana seorang anak
yang dilahirkan dari rahimnya
membenihkan sebuah perhatian dan
kasih sayang serta belajar untuk
memaknai anti penting kehadiran
seonang ibu dihidupnya. Dan ibu juga
meninggalkan empat lilin pengharapan
yang belum sempat ditiupnya……
Wassalam:

RENUNGAN ANAK JAMAN SEKARANG

RENUNGAN ANAK JAMAN SEKARANG
- PACAR sakit Khawatir, IBU yang sakit cuek…
- PACAR ulang tahun di kasi kado, IBU ulang
tahun BOMAT.
- PACAR belum makan ditanya, IBU belum
makan tp biasa saja.
- PACAR marah jadi sedih, IBU yang marah tp
balas marah
- Butuh PACAR setiap waktu, butuh IBU ada
maunya.
- Lagi senang sama PACAR, lagi susah sama
IBU
- PACAR nangis ditenangin, IBU nangis cuek
aja.
Bagaimana kalo keadaan sbb :
- Gak punya uang jalan sama PACAR, minta
uang sama IBU
- Gak ngerti tugas sekolah, nanya ke IBU.
- Lagi sakit manggil IBU
- Diamarahin AYAH ngadu ke IBU
- Minta sesuatu ngomongnya ke IBU….
- Jika tiada, baru menangis.
-
Ingat waktu KECIL sbb :
- Siapa yang memanjakan, jawabannya IBU
- Siapa yang ada ketika sakit, jawabannya IBU
- Siapa yang setia merawat? Jawabannya IBU
- Siapa yang paling khawatir pada saat susah?
Jawabannya IBU
- Siapa yang paling sabar ktk kesal?
Jawabannya IBU
- Siapa yang menerima apa adanya?
Jawabannya IBU

RAHASIA DIBALIK WUDHU


1.. Ketika berkumur, berniatlah kamu
dengan, "Ya Allah, ampunilah dosa mulut
dan lidahku ini".
2.. Ketika membasuh muka, berniatlah
kamu dengan, "Ya Allah, putihkanlah muka
ku di akhirat kelak. Janganlah Kau
hitamkan muka ku ini".
3.. Ketika membasuh tangan kanan,
berniatlah kamu dengan, "Ya Allah,
berikanlah hisab-hisab ku di tangan kanan
ku ini".
4.. Ketika membasuh tangan kiri, berniatlah
kamu dengan, "Ya Allah, janganlah Kau
berikan hisab-hisab ku di tangan kiri ku ini".
5.. Ketika membasuh kepala, berniatlah
kamu dengan, "Ya Allah, lindunganlah daku
dari terik matahari di padang Mahsyar
dengan Arasy Mu".
6.. Ketika membasuh telinga, berniatlah
kamu dengan, "Ya Allah, ampunilah dosa
telinga ku ini".
7.. Ketika membasuh kaki kanan, berniatlah
kamu dengan, "Ya Allah, permudahkanlah
aku melintasi titian Siratul Mustaqqim".
8.. Ketika membasuh kaki kiri, berniatlah
kamu dengan, "Ya Allah, bawakanlah daku
pergi ke masjid-masjid, surau-surau dan
bukan tempat-tempat maksiat".