Cari Blog Ini

Rabu, 16 Januari 2013

TA'ARUF ATAU ZINA HATI....?

Banyaknya jaringan sosial di dunia maya seperti facebook, yahoo

messenger, dll, menjadikan akhwat dan ikhwan mudah berinteraksi tanpa batas. Begitu lembut dan halusnya jebakan dunia maya, tanpa disadari mudah menggelincirkan diri manusia ke jurang kebinasaan. Kasus ta'aruf ini sangat memprihatinkan sebenarnya. Seorang bergelar ikhwan memajang profil islami, tapi serampangan memaknai ta'aruf. Melihat akhwat yang dinilai bagus kualitas agamanya, langsung berani mengungkapkan kata 'ta'aruf', tanpa perantara. Jangan memaknai kata "ta'aruf" secara sempit, pelajari dulu serangkaian tata cara ta'aruf atau kaidah-kaidah yang dibenarkan oleh Islam. Jika memakai kata ta'aruf untuk bebas berinteraksi dengan lawan jenis, lantas apa bedanya yang telah mendapat hidayah dengan yang masih jahiliyah? Islam telah memberi konsep yang jelas dalam tatacara ta'aruf. Suatu ketika ada sebuah cerita di salah satu situs jejaring sosial, pasangan akhwat-ikhwan mengatakan sedang ta'aruf, dan untuk menjaga perasaan masing-masing, digantilah status mereka berdua sebagai pasutri, sungguh memiriskan hati.

Pernah juga ada kisah ikhwan-akhwat yang saling mengumbar kegenitan di dunia maya, berikut ini petikan obrolannya: "Assalamualaikum ukhti," Sapa sang ikhwan. "'Wa'alikumsalam akhi," Balas sang akhwat. "Subhanallah ukhti, ana kagum dengan kepribadian anti, seperti Sumayyah, seperti Khaulah binti azwar, bla bla bla bla…" puji ikhwan tersebut. Apakah berakhir sampai di sini? Oh no…. Rupanya yang ditemui ini juga akhwat genit, maka berlanjutlah obrolan tersebut, si ikhwan bertanya apakah si akhwat sudah punya calon, lantas si akhwat menjawab. "Alangkah beruntungnya akhwat yang mendapatkan akhi kelak." Sang ikhwan pun tidak mau kalah, balas memuji akhwat. "Subhanallah, sangat beruntung ikhwan yang mendapatkan bidadari dunia seperti anti."

....Banyaknya jaringan sosial di dunia maya menjadikan akhwat dan ikhwan mudah berinteraksi tanpa batas. Ikhwannya membabi buta, akhwatnya terpedaya.... Owh mengerikan, berlebay-lebay di dunia maya, syaitan tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Lalu tertancaplah rasa, bermekaran di dada dua sejoli tersebut, yang belum ada ikatan pernikahan. Dengan bangganya sang ikhwan menaburkan janji-janji manis, akan mengajak akhwat hidup di planet mars, mengunjungi benua-benua di dunia. Hingga larutlah keduanya dalam janji-janji lebay. Ikhwannya membabi buta, akhwatnya terpedaya……a'udzubillah, bukan begitu ta'aruf yang Rasulullah ajarkan.

Wahai Ikhwan, Jangan Permainkan Ta'aruf! Muslimah itu mutiara, tidak sembarang orang boleh menyentuhnya, tidak sembarang orang boleh memandangnya. Jika kalian punya keinginan untuk menikahinya, carilah cara yang baik yang dibenarkan Islam. Cari tahu informasi tentang akhwat melalui pihak ketiga yang bisa dipercaya. Jika maksud ta'arufmu untuk menggenapkan separuh agamamu, silakan saja, tapi prosesnya jangan keluar dari koridor Islam.
Wahai ikhwan, relakah jika adikmu dijadikan ajang coba-coba ta'aruf oleh orang lain? Tentu engkau keberatan bukan?
Wahai ikhwan, relakah jika adikmu dijadikan ajang coba-coba ta'aruf oleh orang lain? Tentu engkau keberatan bukan? Jagalah izzah muslimah, mereka adalah saudaramu. Pasanglah tabir pembatas dalam interaksi dengannya. Pahamilah, hati wanita itu lembut dan mudah tersentuh, akan timbul guncangan batin jika jeratan yang kalian tabur tersebut hanya sekedar main-main. Jagalah hati mereka, jangan banyak memberi harapan atau menabur simpati yang dapat melunturkan keimanan mereka. Mereka adalah wanita-wanita pemalu yang ingin meneladani wanita mulia di awal-awal Islam, biarkan iman mereka bertambah dalam balutan rasa nyaman dan aman dari gangguan JIL alias Jaringan Ikhwan Lebay.

Wahai Ikhwan, Ini hanya sekedar nasihat, jangan mudah percaya dengan apa yang dipresentasikan orang di dunia maya, karena foto dan kata-kata yang tidak kamu ketahui kejelasan karakter wanita, tidak dapat dijadikan tolak ukur kesalehahan mereka, hendaklah mengutus orang yang amanah yang membantumu mencari data dan informasinya. Luasnya ilmu yang engkau miliki tidak menjadikan engkau mulia, jika tidak kau imbangi dengan menjaga adab pergaulan dengan lawan jenis....

Wahai ikhwan, luasnya ilmu yang engkau miliki tidak menjadikan engkau mulia, jika tidak kau imbangi dengan menjaga adab pergaulan dengan lawan jenis. Duhai Akhwat, Jaga Hijabmu! Duhai akhwat, jaga hijabmu agar tidak runtuh kewibaanmu. Jangan bangga karena banyaknya ikhwan yang menginginkan taaruf. Karena ta'aruf yang tidak berdasarkan aturan syar'i, sesungguhnya sama saja si ikhwan meredahkanmu. Jika ikhwan itu punya niat yang benar dan serius, tentu akan memakai cara yang Rasulullah ajarkan, dan tidak langsung menembak kalian dengan caranya sendiri. Duhai akhwat, terkadang kita harus mengoreksi cara kita berinteraksi dengan mereka, apakah ada yang salah hingga membuat mereka tertarik dengan kita? Terlalu lunakkah sikap kita terhadapnya?
Duhai akhwat, sadarilah, orang-orang yang engkau kenal di dunia maya tidak semua memberikan informasi yang sebenarnya, waspadalah, karena engkau adalah sebaik-baik wanita yang menggenggam amanah Ilahi. Jangan mudah terpedaya oleh rayuan orang di dunia maya.
Ikhwah Fillah....berhiaslah dengan akhlak islami, jangan mengumbar kegenitan pada ikhwan yang bukan mahram.... Duhai akhwat, berhiaslah dengan akhlak islami, jangan mengumbar kegenitan pada ikhwan yang bukan mahram, biarkan apa yang ada di dirimu menjadi simpanan manis buat suamimu kelak. Duhai akhwat, ta'aruf yang sesungguhnya haruslah berdasarkan cara Islam, bukan dengan cara mengumbar rasa sebelum ada akad nikah.



Bidadari Dunia Mencari Bekal Untuk Akhirat

TUJUH KALIMAT PENGHAPUS DOSA


Barang siapa hafal tujuh kalimat, ia
terpandang mulia di sisi Allah dan Malaikat
serta diampuni dosa-dosanya walau
sebanyak buih laut.
1. Mengucap “Bismillah” pada tiap-tiap
hendak melakukan sesuatu.
2. Mengucap “Alhamdulillah” pada tiap-tiap
selesai melakukan sesuatu.
3. Mengucap “Astaghfirullah” jika lidah
terselip perkataan yang tidak patut.
4. Mengucap “Insya-Allah” jika
merencanakan berbuat sesuatu di hari
esok.
5. Mengucap “La haula wala kuwwata illa
billah” jika menghadapi sesuatu tak disukai
dan tak diinginkan.
6. Mengucap “Inna lillahi wa inna ilaihi
rojiun” jika menghadapi dan menerima
musibah.
7. Mengucap “Laa ilaa ha illa Allah
Muhammadur Rasulullah” sepanjang siang
dan malam, sehingga tak terpisah dari
lidahnya.

Mencintai Dengan Indah

Ketika cinta hadir bukan hanya untuk Allah Yang Maha Mengetahui, saat secercah rasa tidak hanya untuk Yang Maha Pencipta, izinkanlah hati bertanya untuk siapa ia muncul dengan tiba-tiba.... Mungkinkah dengan ridha-Nya atau hanya mengundang murka-Nya?

Rasa cinta itu ibarat pelangi, begitu banyak warna di sana...

Cinta terkadang membuat kita bahagia...

Namun tak jarang membuat kita menderita...

Cinta adakalanya manis bagai madu...

Namun juga mampu memberi rasa pahit bagai empedu...

Cinta adalah perangkap rasa...

Sekali kita salah berlaku, maka akan terkungkung dalam waktu yang lama, dalam lingkaran derita...

Duhai, bagaimanakah kiranya diri bisa keluar dari belenggu itu?

Cintailah dia dengan indah, sikapi dengan anggun dan bijaksana.

Cintailah dia dalam diam, dari kejauhan dengan kesederhanaan dan keikhlasan.

♥♥ Cintai dalam diam ♥♥

Bukan karena membenci hadirnya, tapi menjaga kesuciannya, bukan karena menghindari dunia, tapi meraih surgaNya, bukan karena lemah untuk menghadapinya, tapi menguatkan jiwa dari godaan syaitan yang begitu halus dan menyesatkan.

♥♥ Cintai dari kejauhan ♥♥

Karena kehadiran kita tiada mampu menjauhkan diri dari cobaan, kehadiran kita hanya akan menggoyahkan iman dan ketenangan, kehadiran kita mungkin saja akan membawa kesedihan bagi hati yang terjaga.

♥♥Cukup cintai ia dengan kesederhanaan♥♥

Memupuknya hanya akan menambah penderitaan, menumbuhkan harapan hanya akan mengundang kekecewaan, mengharapkan balasan hanya akan membumbui kebahagiaan para syaitan.

♥♥ Maka cintailah ia dengan keikhlasan ♥♥

Karena tentu kisah cinta Fatimah dan Ali bin Abi Thalib yang diinginkan oleh hati... Tapi sanggupkah jika semua berakhir seperti sejarah cinta Salman Al Farisi?
boleh jadi ( pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. ( QS. Al Baqarah : 216)

Tiada obat yang paling mujarab bagi dua orang berlainan jenis yang saling mencintai kecuali bersatunya dua hati,dua jiwa dan raga dalam ikatan suci pernikahan.

"Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas ( pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.( QS. An-Nur : 32).

Tapi.... Jika memang kelemahan masih nyata di pelupuk mata maka bersabarlah, berdo'alah dan berpuasalah....

"Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. ( QS. Al- Israa : 32)

Cinta bukan untuk kita hancurkan dan kita musnahkan, yang kita perlukan adalah mengendalikan dan mengarahkan agar tidak melanggar syariat-Nya. Kita butuh waktu, kesabaran, kepercayaan/keyakinan bahwa Allah lah yang mengatur segalanya. Dia akan memberikan pasangan hidup yang terbaik untuk kita pada waktu yang tepat dan orang yang tepat.

Sebelum semuanya halal marilah kita fokus mendekatkan diri pada-Nya dengan memperbanyak ibadah dan memperkuat rasa cinta kita pada-Nya.

Dan cintailah yang belum halal itu dalam diam, dari kejauhan dengan kesederhanaan dan keikhlasan, itu jauh lebih anggun, lebih indah, lebih bijak dan lebih suci.


Bidadari Dunia Mencari Bekal Untuk Akhirat

Fenomena Facebook (Bukankah Dia Suami Orang)

BUKANKAH DIA SUAMI ORANG
Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu’ala'kum warahmatullahi wabarakatuh yaa akhowat fillah.

Catatan singkat untuk kita. Ini tetap menjadi nasehat untuk diri pribadi.
Fenomena facebook, ”sekiranya engkau sudah tau bahwa itu adalah suami orang, kenapa pula masih suka berkomunikasi hingga bersenda gurau dengan suami orang”

Ada yang mengatakan bahwa cinta itu buta. Benarkah?

Ada yang mengatakan bahwa cinta itu anugrah. Benarkah?
Ada pula yang mengatakan bahwa cinta itu dari mata turun ke hati. Benarkah?
Ada juga yang mengatakan bahwa cinta itu rela berkorban, suci, saling menerima kekurang . . . . .bla,,bla,,bla,,

Terserah seperti apa kau mau mendefinisikan tentang cinta. Karena pengertian cinta di dalam dirimu sendiri juga kadang berubah-ubah. Kadang ketika hatimu sedang bahagia, kau mengatakan cinta itu adalah A, namun ketika hatimu sedang sedih, kau mengatakan cinta itu adalah B.

Sulit bagi kami mendefinisikan tentang cinta.
Cinta tak bisa kami ungkapkan dengan kata-kata, tetapi cinta hanya dapat dirasakan dengan hati.

Ya, Karena hatilah yang lebih mengetahui, meskipun kadang lisan ini begitu kuat untuk berbohong.

Terkait masalah cinta. Pernah ada satu pertanyaan “siapa yang tidak pernah jatuh cinta di dunia ini?”
Lagi lagi, hanya hatimu yang bisa menjawabnya. Cinta disini lebih dikhususkan pada cinta fitrah antara lawan jenis. Perasaan cinta antara si Fulan dengan Fulanah.

>> Ternyata jatuh cinta itu mudah

Kami tak pernah menyalahkan situs jaringan ini, karena di layanan dunia maya ini pula kami banyak menemukan saudara seiman, saudara semanhaj. Dimana dengan itu, kami dapat banyak bertukar info, bertukar ilmu.
Pernah disuatu kesempatan, masih dalam ranah “facebook”, kami menemukan seorang akhwat yang begitu serius berbicara masalah agama dengan seorang ikhwan. Sang akhwat bertanya masalah ini, masalah itu, kemudian sang ikhwan menjawabnya.

Keesokan harinya lagi, sang akhwat terus bertanya tentang ilmu agama yang tidak ia ketahui, kemudian sang ikhwan menjawabnya lagi. Begitulah seterusnya, hingga berbulan-bulan atau bertahun-tahun lamanya. Tak sadar jika diri mulai terjebak perangkap syaitan.
Yang awalnya saling tukar ilmu agama, kemudian beranjak ke maslah pribadi.
Disinilah kami baru tau, ternyata hati seorang wanita itu begitu gampang tertarik dengan seorang laki-laki karena kepintarannya.

>>ini adalah kisah yang memiriskan hati

Akun sebuah facebook bisa dimiliki oleh siapa saja. Baik yang masih lajang ataupun telah menikah. Dalam sebuah catatan di dunia maya, kami pernah dapati keluhan hati seorang ummahat yang mengatakan bahwa suaminya sering menghabiskan waktu berjam-jam lamanya di depan layar facebook. Sampailah akhirnya diketahui bahwa suaminya sedang dekat dengan seorang akhwat. Kami sedikit meragukan apa yang ia sampaikan, namun keraguan itu terjawab sudah ketika mata kami menyaksikan sendiri bagaimana pergaulan ikhwan dan akhwat di dunia maya. Ada yang saling bertukar ilmu, ada pula yang saling berdebat, ada pula yang saling bersenda gurau. Tak peduli masalah status.
Awalnya hanya bercerita tentang masalah agama. Namun lama-kelamaan akan bertanya ke masalah pribadi. Semakin hari semakin dekat, bersenda gurau, hingga tak jarang suara bebek pun keluar dipercakapan mereka. Seperti inilah bunyinya “wkwkwkwkwk”

Kadang ada juga akhwat yang bertanya, “ya akhi, apakah istri akhi tau tentang diri ana?”
Dengan gampang sang ikhwan berkata, “tidak tau”

Masya Allah, kami miris dengan keadaan seperti ini. Ternyata begitu banyak saudara kita yang terjerat perangkat syaitan di dalam dunia maya ini.

Di dunia maya pula, banyak suami yang menyembunyikan pertemanannya dengan seorang wanita, begitu pula sebaiknya.

Dan yang lebih membuat miris lagi, kami sadar bahwa yang melakukan ini adalah orang-orang yang paham dengan agama, namun sulit terlepas dari jeratan syaitan.

Disinilah kami merasa, betapa besar fitnah yang disebabkan oleh wanita.

Tidaklah aku tinggalkan setelahku suatu fitnah yang lebih berbahaya bagi laki laki (melainkan fitnah yang datang dari) wanita.” Dikeluarkan oleh Bukhari (9/5096); Muslim (4/2097), Ibnu Majah (3998) dan At-Tirmidzi (2780) dan dia berkata: “Hadits Hasan Shahih”

Yaa akhowat fillah, sungguh ini adalah nasehat untuk kita semua.A
Begitu banyak kami dapati curahan hati dari para ummahat.

Yaa akhowat, sekiranya kau sudah tau bahwa itu suami orang, tak perlulah kau berteman akrab dengannya. Tak perlu pula kau berkomunikasi secara sembunyi-sembunyi dengannya.

Yaa akhowat, jika kau telah menikah nanti, kamipun meyakini, bahwa kau tak akan rela jika suamimu dekat dengan seorang wanita tanpa sepengetahuanmu.
Maka bayangkanlah jika posisimu seperti itu.

Yaa akhowat, kamipun paham jika kita begitu haus akan ilmu. Namun keadaan haus akan ilmu tidaklah menjadikan diri kita menjadi penyebab kehancuran rumah tangga orang lain.
Jika kau haus akan ilmu, datangilah majelis-majelis ilmu yang tebuka. Jangan mendatangi suami orang secara tertutup.

Pahami kembali lmu-ilmu agama yang kita dapati.
Pahami kembali bagaimana cara islam mengatur tata cara komunikasi dengan lawan jenis.
Tak pernah ada kata terlambat untuk bertaubat.

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla illa ha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaika.

Karena Hidup Mengajari Kita...

Seorang muslim selalu punya cara sendiri untuk menata hatinya
Meski berlawanan dengan apa yang ia terima didalam kehidupannya
Terkadang saat mendapat musibah, air matanya menetes
Tapi.., hatinya selalu yakin bahwa apa yang diberikan Allah kepadanya pasti yang terbaik
Fisiknya mungkin lelah, pikirannya mungkin penat
Tapi.., tidak dengan hatinya..

Ia yakin ketika ia di uji itu sebagai tanda bahwa Allah mencintainya.
Ia yakin ada scenario indah yang telah Allah persiapkan untuknya
Ia yakin setelah kesulitan akan selalu ada kemudahan
Ia yakin ada banyak hikmah yang bisa ia petik
Ia yakin Allah lebih tahu yang terbaik untuknya
Ia yakin jika ia bersabar pasti akan berakhir indah

Karena hidup tidak selamanya berjalam mulus
Butuh batu kerikil, supaya kita berhati-hati
Butuh semak berduri supaya kita waspada
Butuh persimpangan supaya kita bijaksana dalam memilih
Butuh petunjuk jalan supaya kita punya harapan tentang arah masa depan
Butuh masalah supaya kita tahu, kita punya kekuatan

Hidup, butuh pengorbanan supaya kita tahu cara bekerja keras
Butuh air mata supaya tahu merendahkan hati
Butuh dicela supaya kita tahu bagaimana cara menghargai

Butuh tertawa supaya kita tahu mengucap syukur
Butuh tersenyum supaya kita tahu kita punya cinta
Butuh orang lain supaya kita tahu bahwa kita tidak sendiri

Itulah kehidupan…
Mengajari kita untuk bersabar ketika ujian menyapa
Mengajari kita untuk ikhlas ketika ada yang hilang dari hidup kita
Mengajari kita untuk bersyukur atas semua yang diberikan-Nya
Mengajari kita untuk senantiasa tawakal terhadap segala ketentuan-Nya
Mengajari kita untuk tetap tersenyum, karena kita yakin ini adalah yang terbaik dari-Nya


(Inspirasi Islam)

*** DIANTARA CARA MENJAGA LISAN ***

Berhati-hatilah -semoga Allah menjagamu- dari menghadiri majelis (pertemuan/ perkumpulan) yang buruk dan berbaur dengan para pelakunya, dan bersegeralah-semoga Allah menjagamu- menuju majelis yang penuh dengan keutamaan, kebaikan dan keberuntungan.

-Jika engkau duduk sendiri dalam suatu majelis, atau bersama dengan sebagian saudara/imu, maka senantiasalah untuk berdzikir mengingat Allah ‘azza wajalla dalam setiap keadaanmu sehingga engkau kembali dalam keadaan mendapatkan kebaikan dan mendapatkan pahala. Allah ‘azza wajalla berfirman:
Artinya: “(yaitu) orang – orang yang mengingat Allah sambil berdiri,atau duduk,atau dalam keadaan berbaring” (QS..ali ‘imran :191)

-Jika engkau hendak berdiri keluar dari majelis, maka ingatlah untuk selalu mengucapkan:
“maha suci Engkau ya Allah dan bagimu segala pujian,aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak untuk disembah kecuali Engkau, aku memohon ampun kepada-Mu, dan aku bertaubat kepada-Mu”
Sehingga diampuni bagimu segala kesalahanmu di dalam majelis tersebut.

(Inspirasi Islam)

Sabtu, 12 Januari 2013

Bentuk-Bentuk Berbuat Baik Kepada Kedua Orang Tua

Bentuk-Bentuk Berbuat Baik Kepada Kedua Orang Tua Adalah :

Pertama.
Bergaul dengan keduanya dengan cara yang baik. Di dalam hadits Nabi  Shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan bahwa memberikan kegembiraan  kepada seorang mu’min termasuk shadaqah, lebih utama lagi kalau  memberikan kegembiraan kepada kedua orang tua kita.

Dalam  nasihat perkawinan dikatakan agar suami senantiasa berbuat baik kepada  istri, maka kepada kedua orang tua harus lebih dari kepada istri. Karena  dia yang melahirkan, mengasuh, mendidik dan banyak jasa lainnya kepada  kita.


Dalam  suatu riwayat dikatakan bahwa ketika seseorang meminta izin untuk  berjihad (dalam hal ini fardhu kifayah kecuali waktu diserang musuh maka  fardhu ‘ain) dengan meninggalkan orang tuanya dalam keadaan menangis,  maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Kembali dan  buatlah keduanya tertawa seperti engkau telah membuat keduanya menangis” [Hadits Riwayat Abu Dawud dan Nasa'i] Dalam riwayat lain dikatakan :  “Berbaktilah kepada kedua orang tuamu” [Hadits Riwayat Bukhari dan  Muslim]

 Kedua.
Yaitu berkata kepada keduanya dengan perkataan yang lemah lembut.  Hendaknya dibedakan berbicara dengan kedua orang tua dan berbicara  dengan anak, teman atau dengan yang lain. Berbicara dengan perkataan  yang mulia kepada kedua orang tua, tidak boleh mengucapkan ‘ah’ apalagi  mencemooh dan mencaci maki atau melaknat keduanya karena ini merupakan  dosa besar dan bentuk kedurhakaan kepada orang tua. Jika hal ini sampai  terjadi, wal iya ‘udzubillah.

Kita  tidak boleh berkata kasar kepada orang tua kita, meskipun keduanya  berbuat jahat kepada kita. Atau ada hak kita yang ditahan oleh orang tua  atau orang tua memukul kita atau keduanya belum memenuhi apa yang kita  minta (misalnya biaya sekolah) walaupun mereka memiliki, kita tetap  tidak boleh durhaka kepada keduanya.

Ketiga.
Tawadlu (rendah diri). Tidak boleh kibir (sombong) apabila sudah meraih  sukses atau mempunyai jabatan di dunia, karena sewaktu lahir kita berada  dalam keadaan hina dan membutuhkan pertolongan. Kedua orang tualah yang  menolong dengan memberi makan, minum, pakaian dan semuanya.

Seandainya  kita diperintahkan untuk melakukan pekerjaan yang kita anggap ringan  dan merendahkan kita yang mungkin tidak sesuai dengan kesuksesan atau  jabatan kita dan bukan sesuatu yang haram, wajib bagi kita untuk tetap  taat kepada keduanya. Lakukan dengan senang hati karena hal tersebut  tidak akan menurunkan derajat kita, karena yang menyuruh adalah orang  tua kita sendiri. Hal itu merupakan kesempatan bagi kita untuk berbuat  baik selagi keduanya masih hidup.

Keempat.
Yaitu memberikan infak (shadaqah) kepada kedua orang tua. Semua harta  kita adalah milik orang tua. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala surat  Al-Baqarah ayat 215.

“Artinya  : Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka infakkan. Jawablah,  “Harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu bapakmu, kaum  kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang  dalam perjalanan. Dan apa saja kebajikan yang kamu perbuat sesungguhnya  Allah maha mengetahui”

Jika  seseorang sudah berkecukupan dalam hal harta hendaklah ia  menafkahkannya yang pertama adalah kepada kedua orang tuanya. Kedua  orang tua memiliki hak tersebut sebagaimana firman Allah Subhanahu wa  Ta’ala dalam surat Al-Baqarah di atas. Kemudian kaum kerabat, anak yatim  dan orang-orang yang dalam perjalanan. Berbuat baik yang pertama adalah  kepada ibu kemudian bapak dan yang lain, sebagaimana sabda Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut.

“Artinya  : Hendaklah kamu berbuat baik kepada ibumu kemudian ibumu sekali lagi  ibumu kemudian bapakmu kemudian orang yang terdekat dan yang terdekat”  [Hadits Riwayat Bukhari dalam Adabul Mufrad No. 3, Abu Dawud No. 5139  dan Tirmidzi 1897, Hakim 3/642 dan 4/150 dari Mu'awiyah bin Haidah,  Ahmad 5/3,5 dan berkata Tirmidzi, "Hadits Hasan"]

Sebagian  orang yang telah menikah tidak menafkahkan hartanya lagi kepada orang  tuanya karena takut kepada istrinya, hal ini tidak dibenarkan. Yang  mengatur harta adalah suami sebagaimana disebutkan bahwa laki-laki  adalah pemimpin bagi kaum wanita. Harus dijelaskan kepada istri bahwa  kewajiban yang utama bagi anak laki-laki adalah berbakti kepada ibunya  (kedua orang tuanya) setelah Allah dan Rasul-Nya. Sedangkan kewajiban  yang utama bagi wanita yang telah bersuami setelah kepada Allah dan  Rasul-Nya adalah kepada suaminya. Ketaatan kepada suami akan membawanya  ke surga. Namun demikian suami hendaknya tetap memberi kesempatan atau  ijin agar istrinya dapat berinfaq dan berbuat baik lainnya kepada kedua  orang tuanya.

Kelima.
Mendo’akan orang tua. Sebagaimana dalam ayat “Robbirhamhuma kamaa  rabbayaani shagiiro” (Wahai Rabb-ku kasihanilah mereka keduanya,  sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku diwaktu kecil). Seandainya  orang tua belum mengikuti dakwah yang haq dan masih berbuat syirik serta  bid’ah, kita harus tetap berlaku lemah lembut kepada keduanya.  Dakwahkan kepada keduanya dengan perkataan yang lemah lembut sambil  berdo’a di malam hari, ketika sedang shaum, di hari Jum’at dan di  tempat-tempat dikabulkannya do’a agar ditunjuki dan dikembalikan ke  jalan yang haq oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Apabila kedua orang tua telah meninggal maka :

Yang  pertama : Kita lakukan adalah meminta ampun kepada Allah Ta’ala dengan  taubat yang nasuh (benar) bila kita pernah berbuat durhaka kepada kedua  orang tua sewaktu mereka masih hidup.

Yang kedua : Adalah mendo’akan kedua orang tua kita.

Dalam  sebuah hadits dla’if (lemah) yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ibnu  Hibban, seseorang pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi  wa sallam.

“Apakah  ada suatu kebaikan yang harus aku perbuat kepada kedua orang tuaku  sesudah wafat keduanya ?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,  “Ya, kamu shalat atas keduanya, kamu istighfar kepada keduanya, kamu  memenuhi janji keduanya, kamu silaturahmi kepada orang yang pernah dia  pernah silaturahmi kepadanya dan memuliakan teman-temannya” \[Hadits ini  dilemahkan oleh beberapa imam ahli hadits karena di dalam sanadnya ada  seorang rawi yang lemah dan Syaikh Albani Rahimahullah melemahkan hadits  ini dalam kitabnya Misykatul Mashabiih dan juga dalam Tahqiq Riyadush  Shalihin (Bahajtun Nazhirin Syarah Riyadush Shalihin Juz I hal.413  hadits No. 343)]

Sedangkan menurut hadits-hadits yang shahih tentang amal-amal yang diperbuat untuk kedua orang tua yang sudah wafat, adalah :

[1] Mendo’akannya
[2] Menshalatkan ketika orang tua meninggal
[3] Selalu memintakan ampun untuk keduanya.
[4] Membayarkan hutang-hutangnya
[5] Melaksanakan wasiat yang sesuai dengan syari’at.
[6] Menyambung tali silaturrahmi kepada orang yang keduanya juga pernah menyambungnya

[Diringkas dari beberapa hadits yang shahih]

Sebagaimana hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari sahabat Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma.

“Artinya  : Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  “Sesungguhnya termasuk kebaikan seseorang adalah menyambung tali  silaturrahmi kepada teman-teman bapaknya sesudah bapaknya meninggal”  [Hadits Riwayat Muslim No. 12, 13, 2552]

Dalam  riwayat yang lain, Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma menemui  seorang badui di perjalanan menuju Mekah, mereka orang-orang yang  sederhana. Kemudian Abdullah bin Umar mengucapkan salam kepada orang  tersebut dan menaikkannya ke atas keledai, kemudian sorbannya diberikan  kepada orang badui tersebut, kemudian Abdullah bin Umar berkata, “Semoga  Allah membereskan urusanmu”. Kemudian Abdullah bin Umar Radhiyallahu  ‘anhumua berkata, “Sesungguhnya bapaknya orang ini adalah sahabat karib  dengan Umar sedangkan aku mendengar sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi  wa sallam :

“Artinya  : Sesungguhnya termasuk kebaikan seseorang adalah menyambung tali  silaturrahmi kepada teman-teman ayahnya” \[Hadits Riwayat Muslim 2552  (13)]